Walking Tour Petak Sembilan Bersama Whatravel

Walking Tour Petak Sembilan

Pertama kali saya tahu Whatravel dari teman. Waktu itu teman saya posting fotonya di Bhutan. Wow! Kereeen banget bisa berkunjung ke Bhutan, negara yang konon katanya paling bahagia di dunia, apalagi Bhutan itu setahu saya membatasi akses terhadap wisatawan. Ternyata teman saya itu bergabung di tour-nya Whatravel. Sejak itulah saya follow akun instagramnya Whatravel (@whatravel). Dari sana saya tahu bahwa Whatravel itu memiliki banyak program tour, antara lain ke Jepang, Eropa, negara-negara Skandinavia, Korea, Nepal-Bhutan, Iceland, Morocco, dan masih banyak lagi. Flyer-flyer promonya saya simpan sebagai affirmasi, semoga saja suatu hari nanti kesampaian bisa berkunjung ke sana. Amiiiin.

PHOTO-2019-02-04-20-14-29 (1)Beberapa hari yang lalu, saya melihat ada info Walking Tour Petak Sembilan dari Whatravel. Wuihh… serius ini? Jarang-jarang sepertinya Whatravel mengadakan acara di Jakarta. Berbekal izin dari suami, saya memutuskan untuk bergabung di walking tour ini, kebetulan ada teman saya yang ikut bergabung juga, bertambah seru jadinya.

Pada hari H, kami berkumpul di lobby Pasar Jaya, tepatnya di seberang Pantjoran Tea House. Kalau kita naik transjakarta, halte terdekatnya adalah Halte Glodok. Dari halte tersebut keluar ke sisi yang mengarah ke Kota, kemudian jalan lurus sekitar tiga menit sampai ketemu Pantjoran Tea House. Berhubung saya dari Tangerang, saya turun di Harmoni kemudian naik angkot mengarah ke Kota, turun di Pasar Jaya. Peserta tour kali ini total sebanyak 21 orang. Tim dari Whatravel yang menemani adalah Mas Ariev, sedangkan local guide-nya adalah Mas Dwika.

Pagi itu Mas Dwika bercerita tentang asal-usul nama Petak Sembilan. Ternyata nama tersebut diambil dari rumah seorang Saudagar yang berpetak sembilan. Malangnya, Saudagar tersebut dihukum gantung oleh Gubernur Jenderal karena konon katanya menggoda anak Sang Gubernur Jenderal. Sekarang tidak diketahui yang mana peninggalan rumah berpetak sembilan tersebut.

Dari lobby Pasar Jaya, kami beranjak menuju sebuah gang yang berada satu jalur dengan Pantjoran Tea House. Gang tersebut penuh dengan orang berjualan makanan. Kios yang paling depan menjual aneka makanan kering, seperti kacang almond, kacang pistachio, kacang mede. Uhm! Cuma kacang-kacangan itu saja yang saya ingat karena jarang ditemui, aslinya sih lebih banyak lagi makanan yang dijual.

Di tengah gang, banyak orang yang berjualan makanan seperti bakmie, sekba alias babi potong, bakso goreng, nasi campur. Oya, mayoritas makanan yang dijual di sini adalah non halal, sebaiknya dipastikan dulu saja ya sebelum membeli. Selain itu, banyak juga yang menjual buah-buahan segar, seperti alpukat. Aduh, alpukatnya benar-benar menggoda, bagus dan mulus sepertinya. Sayang saya belum sempat membeli hikss…

Masih di gang yang sama, ada Kedai Kopi Es Tak Kie yang legendaris, berdiri sejak tahun 1972. Ketika kami sampai di sana, kedainya ramai, tidak ada tempat duduk yang cukup untuk kami. Kapasitas Kedai Kopi Es Tak Kie diperkirakan hanya cukup untuk sekitar 20 orang saja yang makan dan minum di tempat. Akhirnya kami hanya memesan es kopi susu yang katanya terkenal enak itu untuk dibawa. Menurut saya, es kopi susunya enak, agak kental, meskipun kurang terasa pahitnya kopi dan aromanya pun tidak terlalu kuat. Mungkin karena lidah saya sudah lebih dulu mengenal es kopi susu-nya Konspirasi dan Laku Kopi yang lebih pahit dan aromanya lebih kuat. Kalau ditanya apakah saya akan membeli es kopi susu Tak Kie lagi di lain kesempatan? Iya, saya akan membeli lagi di lain kesempatan.

IMG_0433
Kari Lam

Dari Kedai Kopi Es Tak Kie, perjalanan kami dilanjutkan ke food court di ujung gang, tepatnya di seberang Toko Kawi. Pencinta wisata kuliner pasti senang karena isi tour-nya banyak makan-makan. Di food court ini ada kari ayam dan kari sapi “Kari Lam” dan Gado-Gado Direksi yang kata Mas Dwika terkenal juga, mie kangkung Si Jangkung, cakue, lumpia sayur, dendeng babi, dan warung kopi juga. Kalau mie kangkung Si Jangkung sih saya sudah tahu karena sering dipakai di acara kantor. Di food court ini saya hanya mencoba cakuenya saja. Cakuenya enak, sausnya juga enak, asam manis pedas rasanya. Kalau kata teman saya sih rasanya seperti bumbu asinan.

IMG_0451
Food Court di Gedung Chandra

Perjalanan selanjutnya adalah ke Gedung Chandra. Di gedung ini kami diajak ke lantai atas melihat food court-nya. Menurut penjelasan Mas Dwika, food court tersebut dipakai oleh warga lokal Pecinan Petak Sembilan untuk berkomunitas. Jika kami datang sore hari, infonya banyak Oma Opa yang datang, duduk-duduk, makan minum, karaoke, atau main catur cina (kalau nggak salah dengar ya hehe…). Di gedung tersebut ada ruangan yang biasa dipakai pertunjukkan, namun kemarin digunakan sebagai tempat pameran berbagai perlengkapan Imlek. Kemudian ada bioskop jaman baheula, namun sekarang digunakan sebagai tempat refleksi dan karaoke. Waktu kami ke sana ada Opa yang sedang menyanyi dalam bahasa Mandarin. Penontonnya banyak, mereka duduk di kursi seperti bioskop (mungkin peninggalan dari bioskop tersebut) dan tidak tampak terganggu ketika kami melihat ke dalam ruangan itu.

IMG_0453
“Daging” untuk Vegetarian

Tempat tujuan berikutnya adalah Vihara Toa Se Bio. Untuk menuju ke sana kami melewati gang-gang kecil. Di gang yang kami lewati tersebut banyak juga yang menjual makanan. Yang saya ingat ada salah satu kedai bertuliskan “Vegetarian”. Ada masakan seperti daging tapi terbuat dari jamur-jamuran dan kedelai. Saya skip, tidak mencoba makanan tersebut, karena sedang menghindari makanan dari kedelai. Menurut teman-teman yang mencoba sih rasanya mirip dengan daging asli, yang seperti ikan pun rasanya mirip katanya.

IMG_0483
Lilin di pintu masuk Vihara Toa Se Bio

Memasuki Vihara Toa Se Bio, kita disambut dengan jajaran lilin merah yang menyala. Begitu juga dengan di dalam vihara. Banyak lilin merah yang menyala, besar dan kecil. Kata pengurusnya, situasi demikian itu memang sudah berlangsung sehari-hari, tidak hanya ketika Imlek saja. Ada 21 patung dewa dewi di vihara ini. Masing-masing patung ada nomornya. Nomor ini menunjukkan urutan yang akan diikuti oleh pengunjung ketika beribadah. Ada cerita dari pengurus vihara yang baru saya dengar. Menurut cerita beliau, dewa-dewi tersebut masing-masing memiliki tugas tertentu di dunia. Pada hari raya Imlek, mereka dipanggil kembali ke khayangan untuk mempertanggungjawabkan tugasnya masing-masing. Pada hari keempat setelah Imlek, barulah dewa-dewi itu turun kembali ke bumi. Bapak pengurus itu juga mengatakan bahwa, “Segala kekuatan berasal dari Tuhan yang Maha Kuasa.”

Segala kekuatan berasal dari Tuhan yang Maha Kuasa.

IMG_0498
Gereja Santa Maria de Fatima

Dari Vihara Toa Se Bio, kami menuju Gereja Katolik Santa Maria De Fatima. Gereja ini adalah salah satu gereja yang unik di Indonesia. Jika tidak melihat tulisan yang terpampang di depan pintu, saya tidak akan mengira bahwa itu adalah gereja. Budaya Cina terlihat kental di gereja ini, mulai dari bentuk bangunannya, lampion merah yang tergantung di halaman, bahkan altarnya pun didominasi dengan warna merah dan ada tulisan huruf Cina. Kapan-kapan saya ingin juga ikut misa di gereja ini. Keluar dari Gereja Katolik Santa Maria De Fatima, Mas Ariev sudah menyambut kami dengan es jeruk, segarnyaaaa. Suwun yo, Mas.

 

IMG_0521
Vihara Dharma Bakti

Tujuan kami selanjutnya adalah Vihara Darma Bakti. Vihara ini disebut juga dengan Vihara Jin De Yuan. Pada salah satu dinding yang ada di sana, tertera sejarah berdirinya Vihara Dharma Bakti. Tahun 1650, vihara ini dibangun oleh Letnan Guo Xun-Guan dengan nama Guan Yin Ting. Tahun 1740, vihara ini mengalami rusak terbakar pada pembantaian orang Tionghoa oleh pemerintah kolonial VOC. Rekonstruksi vihara ini dilakukan oleh Kapiten Oey Tjie dan diganti namanya menjadi Jin De Yuan atau Kim Tek Ie pada tahun 1755. Kemudian vihara ini dipugar dan direnovasi pada tahun 1846 dan 1890. Tahun 1987 Susan Blackburn memperkirakan bahwa Vihara Dharma Bakti berusia sekitar 400 tahun.

Di depan Vihara Dharma Bakti saya melihat ada lapangan luas. Banyak anak sedang bermain di lapangan tersebut. Tak ketinggalan ada juga penjual kembang tahu yang rasanya sudah semakin jarang ditemukan. Di area dalam vihara, banyak orang sedang bersembahyang. Area untuk bersembahyang itu sendiri cukup luas, bahkan lebih luas dari Vihara Toa Se Bio. Sama halnya dengan Vihara Toa Se Bio, di vihara ini pun banyak lilin merah yang menyala.

IMG_0535
Warteg Gang Mangga

Tujuan terakhir dalam tour kali ini adalah makan siang di Warteg Gang Mangga. Yeay! Makan lagi kita hehe… Warteg Mangga ini infonya buka 24 jam. Ketika kami sampai di sana, warteg tampak penuh, banyak orang yang sedang makan siang. Satu persatu kami menempati tempat duduk yang kosong. Syukurlah, akhirnya kami semua kebagian tempat duduk. Menu yang disajikan di Warteg Gang Mangga cukup banyak, kita bebas memilih apa saja menu yang diinginkan. Saya memilih kikil, capcay, dan bakwan. Harus saya akui, makanannya memang enak, bumbunya terasa. Di warteg ini, Mas Dwika memberikan pertanyaan, ada door prize-nya. Yeaayy! Saya berhasil dong menjawab satu pertanyaan dengan benar. Hadiahnya adalah dimsum, produksi Cici Dimsum (di ig: @cicidimsum). Horeee… terima kasih ya, Mas Dwika, Mas Ariev, Whatravel, Cici Dimsum, dimsumnya enaaak.

Selesai makan, sayonara, berpisahlah kami di Warteg Mangga.

Kesan selama Walking Tour Petak Sembilan ini bagi saya menyenangkan, mengingat ini adalah walking tour pertama yang saya ikuti. Jika tidak ada program Walking Tour Petak Sembilan dari Whatravel mungkin saya tidak akan menjelajah kawasan Petak Sembilan, tidak tahu lebih tepatnya. Kudet banget saya ya hehe… Mas Ariev dari Whatravel dan Mas Dwika sebagai local guide juga orangnya ramah dan asyik. Teman-teman seperjalanannya juga asyik-asyik, santai, tidak ada bete-betean. Kalau ada walking tour lagi, saya juga mau ikut lagi, tentunya dengan destinasi yang berbeda.

Advertisements

Kehangatan Dalam Semangkuk Tekwan Cek Lina

Aktivitas berbelanja ke Pasar Segar Graha Raya selalu menyenangkan bagi saya. Soalnya selain berbelanja bahan makanan dan kebutuhan sehari-hari, saya bisa menuntaskan hasrat berwisata kuliner. Yess… banyak makanan enak yang dijual di sana. Jadi setiap saya ke Pasar Segar tinggal digilir saja deh hari itu maunya makan apa hihihi…. Uniknya lagi sebagian besar makanan yang dijual di sana berbeda-beda jenisnya. Asyik kan? 🙂

Tadi pagi saya berbelanja juga ke Pasar Segar Graha Raya. Tadi tuh rasanya saya pengeeen banget makan sesuatu yang hangat tapi seger. Setelah melihat-lihat, pilihan saya jatuh pada tekwan Cek Lina. Sejujurnya saya belum pernah makan tekwan di sana, biasanya makan pempeknya. Sekali-kali bolehlah yaa makan makanan yang berbeda dari biasanya hehe…

Kalau lihat di wikipedia, tekwan itu sejenis makanan yang terbuat dari campuran ikan dan tepung tapioka. Saya kurang tahu apakah komposisi campurannya sama dengan pempek atau tidak, yang jelas warnanya putih. Terus tekwan itu ukurannya relatif lebih kecil kalau dibandingkan dengan pempek. Bentuknya nyaris bulat, tapi tidak mulus. Tekwan ini merupakan makanan khas Palembang. Memang sih di spanduknya Cek Lina juga tertulis “Pempek Tekwan Cek Lina Asli Palembang”.

Ketika saya memesan semangkuk tekwan Cek Lina, saya hanya berharap tekwannya hangat dan seger. Itu aja sih, nggak berharap banyak-banyak. Nggak tahunya, ketika tekwan itu datang saya kaget juga. Porsi tekwannya tuh ternyata lumayan banyak, kirain bakal dapat porsi mini yang cukup untuk icip-icip doang 😀 Seporsi tekwan Cek Lina ini berisi tekwan (sudah pasti lah ya), soun, bengkoang, dan jamur kuping. Masing-masing bahan itu jumlahnya cukup banyak, mengenyangkanlah pokoknya mah. Terus di atas tekwannya ada taburan seledri dan bawang goreng.

Seperti ini penampakan tekwannya

Ketika saya mencicipi kuahnya, saya merasakan ada rasa asin, gurih, terus ada rasa udangnya juga, tapi enak. Ini nih yang membuat saya heran, biasanya saya sensitif dengan amis alias anyirnya ikan, makanya saya nggak begitu suka kuah ikan atau sea food. Tapi pas nyobain kuah tekwannya Cek Lina kok rasanya baik-baik aja ya, enak-enak aja gitu, nggak ada rasa mual ataupun nggak nyaman. Udah gitu kehangatan kuahnya juga pas, sesuai dengan yang saya harapkan. Wah, boleh nih langganan tekwan di sini hihihi… Buat pencinta pedas, kuah tekwannya bisa ditambah sambal. Cek Lina pakainya sambal hijau. Duh, saya tuh suka nggak tahan kalau makan sesuatu yang berkuah, hangat, terus ditambahin sambal hijau, bawaannya pengen makan terus hihihi… Seger sih rasanya. Cobain deh 😀

Tekwannya sendiri teksturnya empuk, kenyalnya pas, dan nggak lembek. Ikannya juga terasa tapi tidak amis. Iseng-iseng saya tanya Mbak yang jaga, ikan apa sih yang dipakai sebagai bahan tekwannya? Ternyata Cek Lina pakainya ikan tenggiri. Kalau kuahnya pakai udang segar. Pantes yah, di kuahnya ada rasa udangnya. Terus ngolahnya pinter sampai nggak terasa amis.

Kesan saya setelah menyantap tekwan Cek Lina, saya sukaaa tekwannya, bikin nagih. Rasa tekwan maupun kuahnya pas di lidah saya, seger, dan yang terpenting tidak amis. Terus yang lebih nyenenginnya lagi, harganya terjangkau, cukup ramah di kantong. Semangkuk tekwan yang mengenyangkan itu dibandrol 20 ribu Rupiah per porsi.

Ini ya saya share price-listnya siapa tahu ada yang perlu 🙂

Kalau ada yang mau nyobain tekwan Cek Lina bisa mampir ke Pasar Segar Graha Raya ya. Dari sisi Alfamart terus aja jalan ke arah belakang, kiosnya ada di sisi luar pasar. Tempatnya bersih kok, bisa muat untuk sekitar 10 orang pengunjung yang makan di tempat.

Itu penampakan luar kiosnya.

Oya, Cek Lina ini menerima pesanan loh, baik itu delivery order, untuk acara ulang tahun, dan lain-lain. Itu ya, nomor kontaknya ada di spanduknya. Silakan hubungi Cek Lina langsung aja kalau mau delivery order 🙂

Berkunjung ke Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa, Sukabumi

Bulan Agustus lalu saya sempat berkunjung ke Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa di daerah Sukabumi. Sebetulnya saya menemukan vihara ini secara tidak sengaja. Waktu itu saya beserta suami berniat menghabiskan jatah cuti di Ujung Genteng. Di tengah perjalanan, tepatnya di Desa Kertajaya, Sukabumi, suami tergoda untuk mengambil foto lautan yang kebetulan berwarna biru cerah. Jadilah kami berhenti sejenak di sana.

Siang itu matahari bersinar sangat terik, rasanya seperti menyengat kulit. Saya tidak tahan terus-terusan mengekori suami, apalagi saya lupa membawa topi hikss… Ketika melihat ke seberang jalan dari tempat kami berhenti, ada sebuah bangunan yang menarik perhatian saya. Saya menduga itu adalah sebuah kuil, terlihat dari bentuknya yang tidak biasa.

Area yang menjadi lokasi kuil adalah perbukitan. Untuk menuju ke sana, ada tangga yang merupakan pintu masuknya. Tangga tersebut diapit oleh dua buah tembok. Di atas masing-masing tembok bertengger dengan gagah seekor naga. Kepala naga itu terletak di atas tembok yang paling dekat dengan jalan raya. Ada yang unik dengan kepala naga tersebut. Dari dalam mulut naga yang menganga, keluar enam buah kepala naga lainnya yang lebih kecil. Posisi enam kepala naga itu membentang seperti jari-jari tangan yang direnggangkan. Di atas kepalanya terdapat ukiran yang mengesankan seolah-olah sang naga sedang mengenakan mahkota. Tubuhnya  sendiri tampak melata di sepanjang tembok.

Tangga sebagai pintu masuk Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa

 

Kepala naga di pintu masuk Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa

Karena tertarik dengan apa yang saya lihat, saya memutuskan untuk singgah di kuil tersebut dan memisahkan diri dari suami yang sedang asyik hunting foto.

Di samping tangga saya melihat ada patung wanita yang sedang bersimpuh. Patung tersebut berwarna emas. Tangan kirinya memegang pangkal ikatan rambut di atas kepala, sedangkan tangan kanannya memegang ujung rambut. Patung wanita emas itu diapit oleh dua patung wanita lainnya yang berwarna gelap. Di depan patung-patung tersebut terdapat sebuah altar persembahan.

Saya berusaha mencari informasi mengenai patung-patung tersebut yang mungkin dilekatkan di sana. Sayangnya informasi tersebut tidak saya temukan.

Setelah puas mengamati, saya pun memutuskan untuk mulai menaiki tangga. Pada lapis pertama, saya melihat ada sebuah altar persembahan lagi. Di depan altar itu terdapat patung laki-laki tak berambut dengan perut buncit. Patung tersebut berlatarkan dinding batu yang indah menurut saya. Di tempat ini lagi-lagi tidak saya temukan informasi yang menyertainya.

 

Dari tempat itu, saya melanjutkan perjalanan menaiki tangga. Semakin ke atas, rasanya semakin teduh. Udara juga terasa sejuk, mungkin karena banyak pohon-pohon besar di sekitarnya. Di tengah perjalanan saya melihat ada banner yang bertuliskan Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa. Ooh jadi itu namanya, baru tahu saya hehe…

Pada suatu tempat yang cukup tinggi, entah pada anak tangga yang keberapa karena saya tidak menghitungnya, ada pelataran yang cukup luas. Sebuah altar yang besar terlihat di sana. Altar tersebut menghadap ke beberapa patung. Saya kurang tahu patung siapa saja yang ada di sana.

Di sisi paling kanan, terlihat ada patung naga besar yang melingkar. Di bagian atas pelataran, terlihat bangungan kecil berukir yang mengingatkan saya pada kuil-kuil di Bangkok. Menurut info yang saya dapat dari wikipedia, vihara ini memang digunakan sebagai tempat beribadah Budhisme Thailand. Pantesan yah ukirannya bisa mirip begitu. Kalau tidak salah bangunan kecil berukir itu adalah tempat penyimpanan relik Sang Budha, rambut atau giginya gitu yah. Duh, maafkan, saya lupa-lupa ingat.

Ada yang menarik di pelataran itu. Patung-patung yang ada di sana tidak hanya patung dewa-dewi atau Budhisme, tetapi ada juga patung Bunda Maria lengkap dengan rosarionya. Saya tertarik ingin mengetahui filosofinya. Saya yakin makna yang terkandung di balik setiap simbol sangatlah dalam dan bermanfaat bagi kehidupan. Sayangnya dari awal perjalanan mengunjungi Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa ini, seingat saya tidak ditemukan tulisan apapun yang berisi informasi tentang hal tersebut.

Akhirnya saya melanjutkan perjalanan ke pelataran satunya lagi dan menikmati pemandangan laut dari tempat tersebut.

Dari tempat ini, perjalanan masih bisa dilanjutkan lebih ke atas lagi. Di sana ada pelataran lain yang merupakan tempat bersemayamnya patung Four Faces Budha berwarna emas. Patung tersebut diapit oleh patung gajah. Setelah dari sini, saya pun memutuskan untuk turun dan bergabung kembali dengan suami yang telah selesai hunting foto.

Four Faces Budha

Kesan saya setelah mengunjungi Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa yaitu vihara ini sangat menarik. Saya suka mengamati patung-patung dan keunikan ornamennya. Saya juga senang melihat pemandangannya, baik keindahan dinding batu yang menjadi latar patung-patung itu, maupun pemandangan laut biru yang dilihat dari ketinggian.

Suasana vihara ini juga menyenangkan, tenang, teduh, serta sejuk. Kekurangan yang saya rasakan adalah kurangnya informasi tertulis yang menjelaskan tentang vihara tersebut, baik keterangan tentang patung maupun simbol-simbol yang digunakan. Semoga saja untuk ke depannya tersedia informasi yang menerangkan tentang hal tersebut. Oya, masuk ke tempat ini free, tapi tersedia kotak dana di dekat altar yang bisa kita isi donasi.

Cireng Goang, Cara Baru Menikmati Cireng

Jujur ya saya tahu makanan yang namanya cireng goang ini baru-baru saja, tahunya dari status teman di facebook. Sebelumnya yang saya tahu cireng itu adalah makanan yang terbuat dari aci atau tepung kanji terus digoreng. Kalau goang, saya tahunya sejenis sambal yang terbuat dari cabe rawit dan garam. Terus cireng goang ini apa ya? Cireng yang dicocol ke sambal goangkah?

Duh, kepo maksimal deh saya, nggak tahan kalau ada sesuatu yang berbau makanan dan pedas, bawaannya pengen nyobain hehe… Jadilah saya stalking-in akunnya teman yang pasang status tentang cireng goang ini. Ternyata cireng goang itu adalah salah satu makanan kreasinya Mbak Natasya (di facebook namanya Natasya Wisaksono Bunda Blissy). Ya sudah, main-mainlah saya di lapak Mbaknya. Saya lihatin foto-foto produk dan testimoninya. Duh, lihat fotonya kok malah jadi ngiler ya heuheuu… Nggak pake lama, saya pesanlah cireng goangnya ke Mbak Natasya. Untungnya bisa dikirim tuh dari Bandung ke Tangerang.

Ketika cireng goangnya datang, saya bingung. Saya bolak-balik kemasannya kok nggak ada label apapun ya? Ini beneran cirengkah? Soalnya kalau dilihat sekilas bentuknya bulet-bulet seperti tekwan. Terus di dalam kemasannya terlihat ada dua plastik kecil, yang satu berisi sambal, yang satunya lagi berisi serbuk hijau. Oya, produknya dikirim dalam kondisi vakum alias hampa udara.

Seperti ini nih penampakan produknya:

 

Nggak mau salah, saya kontaklah Mbak Natasya via whatsapp, nanyain gimana cara masak cireng goangnya.

Ternyata cara masak cireng goang tuh begini ya, temans:

  • Cireng digoreng, kemudian tiriskan.
  • Tumis sambal bersama dengan daun jeruk (ooh… serbuk hijau itu daun jeruk ternyata hihi…)
  • Tambahkan sedikit air
  • Masukkan cireng ke dalam sambal, kemudian diaduk rata
  • Tambahkan garam atau penyedap rasa sesuai selera

Setelah kemasan dibuka, ternyata itu memang beneran cireng haha… Bentuknya nggak bulet-bulet kayak tekwan, tapi pipih dan kecil-kecil. Ya sudah, saya eksekusi sesuai instruksinya Mbak Natasya, minus penyedap rasa karena saya nggak pernah pakai.

Begini hasilnya:

Cireng setelah digoreng
Cireng goang setelah jadi

Ternyata cireng goangnya enak heuheu… asinnya cukup, gurih juga. Rasa sambalnya juga enak, pedasnya cukup, tidak terlalu pedas namun masih terasa. Daun jeruknya memberikan kesan segar dan rasa yang khas pada cirengnya, berbeda dari cireng lain pada umumnya. Sepertinya Mbak Natasya ini ahli memberikan bumbu tertentu pada makanan racikannya sehingga menjadi ciri khas produk beliau. Selain itu, cara memasaknya juga unik. Jika cireng yang lain hanya digoreng saja, maka cireng goang ini ada penambahan air sehingga produknya dinikmati dalam keadaan basah.

Buat teman-teman yang hobby kulineran, boleh tuh dicobain cireng goangnya. Satu bungkus bisalah untuk 1-2 orang, tergantung kapasitas perut masing-masing hehe…

Oya, berhubung cirengnya digoreng juga tentunya mengandung minyak. Jadi bijaklah dalam mengkonsumsinya ya 🙂

Malam Mingguan di The Breeze dan Domino Pizza

Malam Mingguan di The Breeze dan Domino Pizza

Akhir-akhir ini saya dan suami memiliki kebiasaan untuk jalan-jalan setiap akhir minggu. Tempat yang dikunjungi tidak harus tempat wisata yang jauh, yang mahal, ataupun yang mewah. Cukuplah kami mengunjungi tempat menarik yang ada di sekitar kami. Setidaknya ini bisa menambah pengetahuan, pengalaman, dan kebersamaan kami.

Malam minggu ini kami isi dengan mengunjungi The Breeze di BSD.

The Breeze BSD sangat menarik untuk dikunjungi. Di sana ada food court, panggung untuk pertunjukan musik, tempat duduk yang nyaman, kolam, dan dekat danau. Wedding Chapel juga ada. Cocok banget deh dijadikan sebagai tempat nongkrong. Penataannya sungguh artistik. Lampu-lampu yang menyala pada malam hari membuat tempat ini menjadi lebih menarik.

The Breeze BSD
The Breeze BSD

Foto The Breeze BSD bersumber dari web https://terasbilly.files.wordpress.com/2014/11/brz3.png.

Terima kasih ya 🙂

Kami tidak lama menghabiskan waktu di The Breeze BSD karena sedang kurang berselera makan hehe… Akhirnya, kami memutuskan untuk pulang dan mampir di Domino Pizza BSD.

Saya mengenal Domino Pizza atas rekomendasi Abet, teman sekantor. Katanya, Domina Pizza enak rasanya, apalagi pizza yang tipis garing. Pada kesempatan kali ini, kami memesan Extravaganza Pizza tipis garing dan Tuna Carbonara. Memang benar, Pizza-nya Domino Pizza yang tipis garing itu enak rasanya, menurut saya.

Ada pelajaran yang saya dapat dari Domino Pizza. Domino Pizza itu pintar dan kreatif dalam mengemas program penjualannya. Ada berbagai macam promo di sana. Ada promo pizza of the day, promo bundling product berupa paket produk dengan total harga lebih murah, diskon harga untuk Tuna Carbonara dan Fetuccini bila kita membeli pizza ala carte, diskon harga untuk penggunaan kartu debit atau kredit BNI dan BCA, dan promo beli 1 gratis 1 untuk pemesanan pizza yang menggunakan mobile app. Pintarnya lagi, promo-promo tersebut tidak dapat digabungkan. Bagi konsumen, promo mana pun yang dipilih, konsumen tetap memperoleh keuntungan dibandingkan dengan pembelian ala carte. Bagi perusahaan, promo mana pun yang dipilih oleh konsumen, perusahaan tetap memperoleh keuntungan karena konsumen membeli lebih banyak sehingga meningkatkan omzet. Lagipula dalam waktu singkat, konsumen tidak sempat menghitung promo mana sebenarnya yang lebih menguntungkan untuk produk yang diinginkannya, kecuali memang sudah dipersiapkan sebelumnya. Setidaknya itu yang terjadi pada saya hehe…

Bisa ditiru nih program penjualannya Domino Pizza 🙂

Sekian sharing dari saya malam ini. Selamat beristirahat 🙂

Salam,

Tita Mintarsih

Ada Apa di Tanjung Pinang?

Sejujurnya, dalam kunjungan saya ke Tanjung Pinang kali ini, saya tidak sempat ke mana-mana berhubung waktu bebas yang terbatas. Tapi, saya ingin bercerita mengenai pengalaman saya di Tanjung Pinang.

Ketika turun dari pesawat, saya sempat terheran-heran karena kami dijemput dengan bis padahal dalam penglihatan saya, bangunan bagian kedatangan itu dekat jaraknya, bisa ditempuh dengan jalan kaki. Rupanya saya sudah salah sangka. Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjung Pinang, sekarang sudah memiliki gedung baru yang jauuuhh lebih bagus, seperti gedung di bandara internasional Lombok atau Makasar. Maklum, kunjungan saya ke Tanjung Pinang sebelumnya sudah lama sekali, sekitar tahun 2011 kalau tidak salah.

Di bagian depan Bandara Raja Haji Fisabilillah, terdapat tulisan RHF Airport gede yang bagus sekali kalau dijadikan spot untuk foto-foto.

Bandara Raja Haji Fisabillillah Tanjung Pinang
Bandara Raja Haji Fisabillillah Tanjung Pinang

Apa saja yang menarik di Tanjung Pinang?

Pulau Penyengat

Pulau Penyengat adalah sebuah pulau kecil dekat Kota Tanjung Pinang, jaraknya sekitar 2 km. Untuk mencapai Pulau Penyengat, kita dapat menggunakan moda transportasi perahu bermotor yang lebih dikenal dengan nama pompong.

Di Pulau Penyengat, kita dapat mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau yang berwarna kuning cerah. Bagus deh, seperti istana dari negeri dongeng. Konon katanya, masjid ini menggunakan perekat dari bahan putih telur. Selain Masjid Raya Sultan Riau, kita juga dapat mengunjungi makam para raja, makam pengarang Gurindam XII yaitu Raja Ali Haji, dan kompleks istana kantor. Untuk mengelilingi Pulau Penyengat, kita dapat menyewa becak motor yang tersedia di dekat Dermaga Pulau Penyengat.

Masjid Raya Sultan Riau
Masjid Raya Sultan Riau

Saya mengunjungi Pulau Penyengat tahun 2011. Saya tidak sempat mengunjungi Pulau Penyengat lagi pada kunjungan kali ini.

Foto Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat diambil dari web http://cdn-2.tstatic.net/lampung/foto/bank/images/pulau-penyengat1.jpg. Terima kasih yaa 🙂

Foto yang saya ambil sendiri belum ketemu hehe, masih tersimpan di laptop yang lama sepertinya.

Kuliner

Saya senang wisata kuliner.

Makanan khas Tanjung Pinang yang pernah saya coba yaitu:

  • Otak-otak

Otak-otak di Tanjung Pinang unik, berbeda dengan otak-otak di tempat lain yang pernah saya coba. Warna otak-otaknya orange kemerahan karena sudah dicampur dengan bumbu. Rasanya ada yang ikan, udang, dan sotong alias cumi.

Otak-otak saya temukan di dekat Pelabuhan Tanjung Pinang dan di Jalan Pelantar (di area pasar, dekat Hotel Tanjung Pinang). Kalau yang di dekat Pelabuhan Tanjung Pinang harganya Rp 1000 per buah, kalau yang di Jalan Pelantar Rp 1500 per buah. Dari segi rasa, saya lebih suka otak-otak yang di Jalan Pelantar.

  • Sop Ikan

Saya mencoba sop ikan di Rumah Makan Sop Ikan Tanjung Pinang Aulia. Ikan yang digunakan yaitu ikan kakap merah. Sebetulnya, saya tidak terlalu suka ikan karena tidak suka amisnya. Tapi sop ikan di sini lain, rasanya enak, segar karena ditambah jeruk, dan tidak berasa amis. Bagi yang suka kepala ikan, di sini juga tersedia. Bagi yang tidak suka ikan, tersedia juga sop ayam dan soto ayam.

  • Lontong Usus

Lontong usus adalah makanan yang baru saya coba kemarin pagi hehe.. Jadi, usus sapi dicuci bersih kemudian diisi dengan campuran tahu dan telur. Bentuknya jadi seperti sosis. Penyajian lontong usus ini seperti lontong sayur tetapi tidak pakai sayur.

Sepiring lontong usus terdiri dari lontong, usus sapi berisi campuran tahu dan telur yang sudah dipotong-potong (mirip irisan sosis deh pokoknya mah) kemudian disiram dengan kuah kental khas masakan Padang. Rasanya.. hmmm…. lezaaatt, bikin nagih. Hasrat hati sih ingin nambah tapi apa daya perut sudah tidak muat hehe…

Lontong usus ini dijual di Rumah Makan di samping Hotel Tanjung Pinang.

Jpeg
Lontong Usus 
  • Roti Zaman

Roti Zaman ini letaknya di dekat Hotel Laguna. Dari segi penampilan tokonya, jujur saya kurang tertarik masuk karena seperti toko roti jadul. Tapi, teman saya yang memang asli orang Tanjung Pinang berlangganan beli roti di sana sejak beliau kecil. Katanya, Roti Zaman ini memang sudah berdiri sejak dulu dan telah menghidupi beberapa generasi. Kalau lihat di bungkus rotinya, memang tertulis Roti Zaman telah berdiri sejak tahun 1932. Roti Zaman ini hanya ditemukan di sana, tidak ada di minimarket ataupun supermarket karena pemiliknya yang menghendaki demikian katanya.

Bu Iffah, teman saya yang asli orang Tanjung Pinang, merekomendasikan kami untuk mencoba roti isi srikaya. Rotinya sekilas seperti roti biasa ukurannya, tetapi ternyata padat isinya, cukup untuk mengenyangkan perut hehe…

  • Mie Lendir

Mie Lendir ini seperti mie goreng disiram dengan bumbu kacang. Saya mencoba mie lendir pada kunjungan saya di tahun 2011. Saya merasa tidak cocok dengan rasanya sehingga tidak mencoba lagi pada kunjungan kali ini.

Oleh-oleh

Bagi yang suka ikan asin seperti berbagai macam ikan teri dapat berbelanja di Pasar di Jalan Pelantar.

Penginapan

Di Tanjung Pinang, saya menginap di Hotel Laguna. Hotel Laguna ini pada lantai 3 berhubungan dengan Bestari Mall.

Sekian dulu ya, sharing dari saya.

Terima kasih untuk Bu Iffah yang sudah menemani dan mengajak kami ke mana-mana, dan Jenk Suzie, partner tugas dan jalan pada kunjungan kali ini.

Salam,

Tita Mintarsih

Tanjung Pinang Itu di Sumatera, Bukan?

Mulai dari kemarin hingga hari Jumat, saya ditugaskan untuk mengerjakan suatu hal di Provinsi Kepulauan Riau, tepatnya di Kota Tanjung Pinang dan Kota Batam.

Saya tidak akan bercerita tentang pekerjaan, cukuplah itu dibahas di lingkungan kantor pada jam kerja saja hehe…

Saya akan bercerita mengenai perjalanannya, anggaplah sebagai bagian dari petualangan J

Perjalanan dari Jakarta ke Kota Tanjung Pinang ditempuh dengan menggunakan pesawat Si Singa Merah alias Lion Air. Pesawat Lion Air yang menuju Kota Tanjung Pinang berangkat dari Terminal 1A Bandara Soekarno Hatta, Jakarta, dan mendarat di bandara Raja Haji Fisabillillah, Tanjung Pinang.

Ada cerita lucu ketika mencari terminal keberangkatan Lion Air di Bandara Soekarno Hatta J

Di tiket saya, tidak tertulis keberangkatannya dari terminal mana. Saya kemudian browsing di internet dan saya menemukan di blog seseorang bahwa Lion untuk tujuan Sumatera berangkat dari terminal 1B. Pedelah saya turun di Terminal 1B. Tanjung Pinang ada di Pulau Sumatera, bukan? J

Ketika mau masuk, saya melihat papan jadwal keberangkatan pesawat di Terminal 1B. Laahh…. kok pesawat ke Tanjung Pinang ga ada, ya? Bingung saya.

Ga mau buang waktu terlalu lama, saya tanya ke petugas yang jaga di pintu masuk. Ternyata oh ternyataaa, pesawat Lion Air untuk tujuan Tanjung Pinang itu berangkat dari Terminal 1A. Jalan kakilah saya ke Terminal 1A sambil geret koper yang untungnya cuma berisi setengahnya hehe… Di tengah jalan, saya sempat ragu karena saya melihat dengan jelas penunjuk arah yang bertuliskan “Lion Tujuan Sumatera Berangkat dari Terminal 1B”. Wooo…. mana yang bener? Tanjung Pinang itu di Sumatera, bukan? Kok pisah sendiri di Terminal 1A, ya? Hihihi….

Berhubung di Terminal 1B sudah jelas ga ada jadwal pemberangkatan pesawat yang akan saya naiki, saya lanjutkan jalan kaki ke Terminal 1A. Sebelum masuk, saya sempatkan untuk melihat jadwal keberangkatan pesawat dari Terminal 1A. Dan ternyataaa…. BENAR, Saudara-saudara, pesawat Lion Air tujuan Tanjung Pinang berangkat dari Terminal 1A, BUKAN dari Terminal 1B.

Jadiiii…. Tanjung Pinang itu di Sumatera, bukaaan?

Hihihihi….